Senin, 17 Januari 2011

negeri - negeri yang dihancurkan

negeri - negeri yang dihancurkan

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. At-Taubah, 9: 70)

Ironi dan dilematis, mungkin kata itu cukup tepat untuk menggambarkan keadaan negeri ini. Isu-isu korupsi, mafia hukum, mafia pajak, mafia imigrasi, kemiskinan, liberalisasi, pornografi dan pornoaksi ( termasuk segala macam bentuk penyimpangannya, seperti homoseks ), kebebasan yang tidak bermoral, hedonisme para kaum elit dan pejabat, sistem birokrasi yang kacau, dan ketidak adilan, tersemat di negeri yang terkenal dengan mayoritas 80% penduduknya adalah muslim. Apakah masih wajar bagi kita untuk tetap menutup mata ?
Suatu ketika, saya menyempatkan diri untuk membaca sebuah buku kecil yang berjudul kisah 25 nabi dan Rasul, saya tertarik dengan beberapa kisah Nabi dan Rasul yang negerinya dihancurkan oleh Allah. Setelah saya baca, ternyata kisahnya cukup menarik untuk didalami dan saya menyempatkan untuk browsing, mencari artikel tentang hal tersebut, dan Alhamdulillah, saya mendapat sebuah ebook gratis karya dari Harun Yahya, yang berjudul “jejak bangsa bangsa terdahulu”.
Secara singkatnya, Allah menghancurkan negeri-negeri itu bukan tanpa alasan, tetapi memang kaum yang mendudukinya sudah pantas untuk dihancurkan dan sebagai bentuk pembelaan terhadap Nabi dan risalahNya. Mereka yang dihancurkan, bukanlah negeri yang bodoh, malah sebagian besar adalah negeri yang makmur, sejahtera, kuat, dan pintar, tetapi hati mereka sudah mati.Kepantasan itu tercermin dari sifat, sikap dan perilaku mereka, terutama kepada nabi mereka sendiri. Mereka yang dihancurkan adalah kaum yang sombong, tidak bermoral, keji, para koruptor, dan musyrik, termasuk didalamnya menjadikan dunia dan materi sebagai tuhannya. Kutipan dari pernyataan Harun Yahya, tentang hal ini adalah orang-orang yang “..melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, menyekutukan-Nya, berlaku sombong di muka bumi, dengan sewenang-wenang menguasai hak milik orang lain, cenderung terhadap perilaku seksual yang menyimpang, dan angkara murka. Sifat umum lainnya adalah penindasan dan kesewenangan mereka terhadap kaum Muslim di sekitar mereka...” kemudian secara terperinci, “Seperti halnya kaum Tsamud yang mengurangi timbangan ( korupsi ), saat ini juga terdapat banyak pemalsu dan penipu. Terdapat pula “komunitas homoseksual” yang dibela kapan saja perbuatan itu muncul, dan para anggotanya yang tidak kurang dari kaum Luth, di mana penyimpangan seksual telah mencapai puncaknya. Segolongan besar dari masyarakat terdiri dari orang-orang yang tidak bersyukur dan ingkar, sebagaimana kaum Saba', yang tidak bersyukur atas kekayaan yang dianugerahkan kepada mereka sebagaimana kaum Iram, yang tidak patuh dan penuh penghinaan ter-hadap orang mukmin sebagaimana kaum Nuh, dan yang tidak acuh terhadap keadilan sosial sebagaimana kaum ‘Ad”.
Hanya sebagai tambahan, hancurnya negeri-negeri itu dikarenakan bemcana alam, yang berupa gempa bumi ( kaum sodom, dan madyan ), banjir ( kaum nuh dan saba’ ), badai ( kaum ‘ad), dan letusan gunung berapi ( pompeei ). Apakah kita masih mau menutup mata ?
Sebagai penutup catatan ini, saya teringat sebuah lirik nasyid dari Raihan, yang berjudul Ababil,
persoalannya mengapakah kita di zaman ini
dipermainkan sesuka hati oleh musuh kita
tiada pembelaan dari Tuhan untuk umat ini
kerna cinta dunia dan takut mati
(al-wahan)
cubalah kita koreksi diri

Wallahu’alam

Kamis, 29 April 2010

jam dinding

jam dinding

Seberapa besar pengaruh benda ini bagi kita ? apakah hanya sebagai hiasan dinding semata, dimana tatkala ketika kita jenuh dan bosan baru kita melihat jam sambil berfikir kapan aku bisa kaya ? atau sebagai seorang sahabat yang selalu tersenyum saat melihat jam sambil merencanakan apa yang akan dilakukannya pada hari ini ? atau sebagai mesin biasa yang tidak berpengaruh sama sekali kahidupan kita ? atau bahkan dianggap sebagai musuh yang selalu dicaci dan dimaki karena ia menyalahkan waktu sebagai faktor utama kegagalannya ?memang semua jawaban yang timbul adalah relatif dari perbedaan kondisi dari kita.
Terlepas dari semua pertanyaan itu, mari kita merenung dan sejenak berfikir, apa sebenarnya waktu ?
Layaknya sebuah perjalanan, semua yang ada akan dilewati dan tidak akan kembali lagi sesuai pada keadaan semula. Itulah hakikatnya waktu. Pernahkah kita melihat dan memperhatikan perputaran arah jarum jam pada jam dinding ? dimana perbandingan satu detik, satu menit, dan satu jam, mempunyai rasio yang sama dan seimbang yaitu 1:60, begitu pula dengan kecepatan jarum jam detik yang tidak begitu cepat dan tidak begitu pula lambat. Maka sudah sepatutnya kita menghargai dan menyadari kehadiran seorang penemu jam yang luar biasa jenius dan cerdas, karena mampu memperhitungkan dan merealisasikan satu dimensi yang berpengaruh kepada manusia, yaitu waktu melalui perputaran jarum jam.
Salah satu hikmah dari penciptaan waktu adalah adanya batasan antara Allah dan makhluk, dimana Allah tidak terikat oleh waktu, sedangkan makhluk sangat terikat sekali oleh waktu. Karena waktu, maka kita mengenal awal dan akhir, karena waktu kita mengenal lama dan cepat, karena waktu pula kita mengenal hidup dan mati. Pada akhirnya seseorang yang mengakui waktu akan beriman secara total terhadap Zat yang telah menciptakan waktu, kenapa ? karena ia pasti menyadari bagaimana kesempurnaan waktu terlebih lagi tidak mungkin waktu ini hasil cipta rekayasa acak semata yang secara tidak langsung didukung oleh para kaum materialistis dan evolusionis.
Sungguh Maha Luar Biasa Allah, Ia menciptakan waktu dari yang tidak terduga dan tidak tergapai secara logika, kalau kita perhatikan, waktu adalah hasil dari pergerakan benda – benda langit yang berada disekitar bumi, sebutlah matahari sebagai patokan waktu syamsiyah atau masehi, dan bulan sebagai patokan tahun komariyyah atau hijriyah, pada keduanya tidak terdapat satupun kecacatan dan kebatilan, terutama bagi manusia, ya manusia, karena makhluk inilah Allah menciptakan waktu, yaitu sebagai perhitungan akan amal – amal yang telah dilakukannya.
Sekali lagi, sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang mengakui adanya Tuhan untuk senantiasa bersyukur dan memanfaatkan pemberiaNya yang amat luar biasa besarnya yaitu waktu. Waktulah yang akan menyebabkan kita mesuk surga atau neraka, waktu yang menyebabkan kita benar atau salah, waktu pula yang menjadi ukuran kualitas seseorang baik itu dihadapan manusia ataupun dihadapan Allah. Pantaslah kalau khalifah Ali bin Abi Thalib mengatakan waktu itu bagai pedang bermata dua.
Kita kembali lagi perhatikan perputaran jarum jam, pernahkah kita berfikir kapan perputaran itu akan berakhir ? mungkin jawaban kita adalah saat baterainya habis, namun jauh lebih dari itu, tatkala jarum itu sudah tidak berputar lagi artinya kiamat telah tiba, dimana perhitungan waktu sudah tidak ada lagi, tidak lagi awal dan akhir, yang ada hanyalah, satu waktu yang dimana tidak akan berubah untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan yang tela dilakukan manusia selama jarum itu berputar.
Seharusnya kita malu kepada jam dinding yang selalu berputar itu, jarum jam adalah saksi utama segala perbuatan kita, ia selalu mengingatkan namun tak pernah kita dengar, tak-tik-tak-tik adalah suara peringatan jam kepada kita sekaligus suara peringatan Allah kepada kita, “apa yang telah kau perbuat wahai manusia ?”. seharusnya kita malu kepada penemu jam dinding siapapun itu, beliau telah mencurahkan segala pemikiran dan pengetahuannya demi terciptanya penghitungan waktu yang tepat, namun kita pada saat ini seakan akan tidak menghargainya, kita berbuat semena-mena, seakan-akan kita lah yang mengendalikan waktu, karena waktu terdapat pada jam dinding kita. Dan terakhirnya seharusnya kita malu kepada Allah, Ia yang telah mengendalikan pergerakan matahari, bulan, bumi, bintang, planet-planet, dan benda langit lainnya, hanya sebagai patokan perhitungan waktu yang tepat dalam kadarNya, namun sekali lagi kita meremehkan semua itu, kita hanya menganggap jam dinding sebagai mesin tak berdaya, sebagai benda mati yang bisu, dan tuli, atau sebagai tempelan wajib yang harus ada disetiap rumah semata.
Satu hal yang mesti kita ingat, jarum jam itu menunjukan kapan kita mati, entah pada angka 1,2,3 atau angka lainnya, yang jelas semakin jarum jam itu berputar ke arah kanan, maka kita sudah dekat dengan kematian. Dan apabila kita sudah mati, apakah kita sudah siap tatkala jam dinding itu datang dan memberitahukan kepada Allah, perbuatan buruk apa saja yang telah diperbuat kita selama jam dinding ini berputar…???

Sabtu, 30 Januari 2010

penciptaan manusia menurut Al qur'an

penciptaan manusia menurut Al qur'an

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Itulah serangkaian dialog yang terjadi antara Allah dan malaikat, tatkala manusia pertama akan diciptakan dimuka bumi. Didalmnya terjadi pertentangan antara malaikat, dengan Allah, mengapa ini terjadi ? sungguh, Allah yang Maha mengetahui, ingin menyampaiakn pesan yang amat mendalam, melalui ayat ini. setidaknya, ayat ini terbagi atas 3 bagian besar, yaitu,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Dalam, Fidzhilalill qur’an disebutkan bahwa hal ini adalah kehendak luhur, yang hendak menyerahkan pengendalian bumi ini kepada makhluk yang baru, yaitu manusia. Dalam ayat selanjutnya disebutkan, bahwa manusia pertama, yaitu Nabi Adam as, telah diberikan persiapan – persiapan memadai yang tersimpan didalam bumi ini, yang berupa kekuatan – kekuatan, potensi – potensi,perbendaharaan – perbendaharaan, dan bahan – bahan mentah, dan diberikan kekuatan tersembunyi yang dapata merealisasikan kehendak Illahiyah.
Oleh karena itu, penciptaan manusia ini juga mengandung suatu keharmonisan antara undang – undang yang mengatur semesta dan undang – undang yang mengatur manusia. Dengan kata lain, manusia adalah sebagai penyeimbang atas undang – undang yang telah ditetapkan Allah, sehingga tidak terjadi “benturan” undang – undang. Kalau begitu, ini adalah peran yang tinggi bagi manusia dalam tatanan alam wujud diatas bumi yang luas ini. dan, ini adalah kemuliaan yang dikehendaki untuknya oleh Sang Pencipta yang Maha Mulia.
mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Marilah kita membuka mata, apa yang saat ini tengah terjadi pada bumi kita ? isu pemanasan global seakan – akan semakin menekankan bukti adanya terjadi kerusakan total dan global yang terjadi di muka bumi, namun ironisnya kerusakan ini terjadi akibat tangan manusia, yang mempunyai peran penyeimbang semesta, malah menjadi pelaku pengrusakan paling utama dibumi.
Perkataan malaikat yang disebutkan dalam ayat diatas tadi, seakan – akan mempunyai pandangan perilaku manusia jauh kedepan terhadap bumi, dengan menyebutkan bahwa manusia akan membuatkan kerusakan dan pertumpahan darah dimuka bumi. Selain dari konteks pemanasan global yang mengisyaratkan bahwa manusia memang benar – benar merusak bumi, pertumpahan darah pun seringkali tidak dapat dihindari, dalam sejarah peradaban manusia, tercatat dua kali manusia melakukan peperangan besar yang memakan korban jiwa, ditambah lagi peperangan dan pembantaian yang terjadi dimana – mana, dan pada saat ini nyawa manusia seakan – akan tidak berharga, begitu mudah dan gampang bagi seorang manusia untuk kehilangan nyawanya.
Pertanyaan yang timbul dalam benak kita, mengapa Allah berbuat demikian ? dan ke - Maha Tahu – an Allah pun kembali terbukti dengan menjawab pertanyaan tersebut, sesuai dengan lanjutan terakhir ayat ini,
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dalam beberapa ayat yang terdapat dalam Alqur’an, dijelaskan bahwa malaikat adalah makhluk yang digambarkan dengan berbagai kebaikan, kesucian, dan kepatuhan mereka kepada Allah. Namun sekalipun penggambaran mereka seperti itu, namun itu juga yang menjadi batasan bagi malaikat untuk memahami kehendak Tuhan.
Sungguh samar bagi mereka hikmah yang maha tinggi yang telah dihendaki oleh Allah, dalam rangka memakmurkan, mengembangkan, dan memvariasikan didalam merealisasikan undang – undang alam dalam perkembangan, peningkatan, dan penegakkanya di tangan khalifahNya, yaitu manusia. Makhluk ( manusia ) ini kadang membuat kerusakan ada kalanya menumpahkan darah, agar dibalik kerusakan parsial ini terwujud kebaikan yang lebih besar dan lebih luas, kebaikan pertumbuhan yang abadi, kebaikan perkembangan yang konstan, kebaikan gerakan perusakan dan pembangunan, kebaikan usaha – usaha dan penelitian yang tak pernah berhenti, dan perubahan serta perkembangan di dalam alam semesta ini.
Inilah sebuah hikmah yang luar biasa, yang terkandung dalam proses penciptaan manusia sebagai khalifah dimuka bumi serta peran penting yang diembannya. Tinggal kita yang harus menyadari mengenai peran penting ini, dan menjadikannya sebagai keimanan yang kuat, yang tertancap teguih dalam hati dan dada kita.
Wallahu’alam

Sabtu, 19 Desember 2009

Renungan Muharram 1431 H

Renungan Muharram 1431 H

Hidup adalah sebuah rangkaian waktu. Dengan hidup, seseorang akan menjadi bermakna dan bernilai, sehingga ia bertemu dengan Sang pencipta, Sang Maha Hidup. Ia akan tersenyum manis, bahagia.
Hidup ini tak lain hanyalah sebuah episode dari rangkaian perjalanan panjang yang mau tidak mau harus diarungi, sebesar apapun kekuatan kita, tak akan mampu menghentikan perjalanan.

Satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu hari, itu adalah hari ini. Hari dimana aku mampu tersenyum diatas tangisku.

Waktu, itulah kata kunci dalam kehidupan. Tak ada waktu berarti mati. Waktu inilah yang mampu membunuh atau menghidupkan, waktu pulalah yang akan menjadi tanggungan hidup, tanggung jawab bagi kita sesudah kehidupan fana ini.

Seberapa pentingkah waktu itu ? seberapa dekatkah kita dengan waktu ?

Allah lah yang berkehendak, Ia Maha Kuat, Ia Maha Sempurna, Ia Maha Kuasa, Ialah Maha Abadi.
Kita adalah manusia, sebutir pasir dari hamparan padang pasir di gurun sahara. Kita hidup dengan berbagai kelemahan, dan kekurangan. Kita tidak lebih dari makhluk pendusta, sombong, dan egois. Lalu, mengapa Tuhan selalu bersama kita ?

Allah lebih dekat dari pada urat leher kita sendiri, mengapa Allah lakukan itu ? padahal kita sering berdusta, sering berdosa, dan sering berdurhaka. Inilah bukti cinta sejati Allah, mengalahkan cinta apapun yang ada diseluruh alam semesta ini. Cinta sejati yang paling sejati.

Mengapa kita tidak pernah merasakannya ? mengapa kita tidak merasa malu takut, atau bahagia karena tuhan bersama kita ? itu karena kita sendiri menolak kehadiran tuhan, menolak kehadiran yang telah menciptakan kita. Maka, memang benar kalau manusia adalah makhluk pendusta, penentang yang paling hebat.

Untuk apa kita diberi mata, telinga, hidung, kulit, kalau kita hanya mendurhakaiNya ? untuk apa kita diberi hati, jantung, paru – paru kalau kita sering berprasangka buruk kepadaNya ? untuk apa kita diciptakan, kalau hanya menentangNya saja ? seharusnya kita malu !!

Tuhan tidak pernah, dan tidak akan pernah sama dengan makhlukNya. Ia pun maha suci dari segala kelemahan dan kekurangan, karena kelemahan dan kekurangan itu hanyalah milik makhluk, bukan milik khalik, sang pencipta.

Kita telah hidup, kemudian diberikan tanggung jawab waktu untuk digunakan sebaik – baiknya, setelah itu setiap langkah dan jangkal gerak kita pun berada dalam pengawasan tuhan, terakhir, kita diberi karakterisitik individual yang berbeda satu sama lain.

Tuhan tidak memandang kita dari kekayaan, tampang, bentuk rupa, tapi tuhan memandang kita dari sikap kita kita kepada tuhan, itulah yang bernama taqwa. Tuhan Maha Adil, Dia tidak membeda – bedakan suku, ras, Negara, bangsa, tampang rupa, bahasa, dihadapanNya hanyalah ketaqwaan yang tampak.

Karakterisitik inilah yang membedakan derajat teqwa, karakterisitik timbul dari banyak faktor, yang jelas karakter apapun yang muncul dan kita miliki, itulah ketetapan dari tuhan.

Kenali karakteristik, niscaya kita akan mengenal tuhan. Siapa kita ? dimana kita ? mau kemana kita ? bagaimana ? dan lebih banyak lagi pertanyaan yang lebih spesifik, sehingga mampu membuka siapa diri kita sebenarnya.

Semuanya lahir dari sebuah perbedaan, dan perbedaan itulah yang harus direnungkan, bukan untuk diperselisihkan, tetapi untuk dicari hakikat kebenaran yang tesembunyi dibaliknya.

Perenungan panjang ini adalah modal utama untuk menghadapi kehidupan, kehidupan sebenarnya, kehidupan setelah kematian.

Kehidupan setelah kematian, itulah kehidupan sejati, kematian adalah satu fase berpisahnya nyawa dan raga kita, sakit memang, tapi itulah sat – satunya jalan untuk bertemu dengan tuhan,, dan suatu kebahagian yang luar biasa bagi orang yang beriman apa bila bertemu dengan tuhan.

Andai kita sudah hidup, mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin mengenal karakteristik diri dan telah mengenal tuhan, dan telah menyadari bahwa tuhan selalu bersama kita, maka kita sudah sukses menjalani hidup dan telah siap untuk menghadapi hidup yang sebenarnya. 

Satu tugas kita : AKUI KEBERADAAN TUHAN

Kamis, 1 muharram 1431 H

Untuk jiwa yang haus kerinduan sejati...